Pontianak, Kalbar — Di tengah kabar dibukanya Selat Hormuz yang memicu penurunan harga minyak dunia, publik justru dihadapkan pada kenyataan pahit yang berbeda di dalam negeri. Kenaikan harga BBM non-subsidi oleh Pertamina telah memunculkan pertanyaan besar di masyarakat—mengapa saat harga global turun, harga di dalam negeri justru bergerak naik signifikan?
Ketua Lidik Krimsus RI Kalbar, H. Badrut Tamam AQ, menyampaikan kritik dan keprihatinan atas kebijakan tersebut. “Ini yang menjadi tanda tanya besar bagi masyarakat. Ketika harga minyak dunia turun, logikanya harga di dalam negeri juga ikut turun atau minimal stabil. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Pemerintah harus terbuka, apa faktor dominan yang menyebabkan kenaikan ini,” ungkapnya tegas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
H. Badrun menilai kebijakan tersebut perlu dijelaskan secara transparan kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi dan ketidakpercayaan. “Pemerintah wajib mengkaji ulang kenaikan tersebut diatas ketidakpastian harga energi yang dapat memicu kenaikan harga barang dan jasa lainnya, yang pada akhirnya menekan daya beli rakyat,” tambahnya.
Masyarakat menuntut keadilan harga yang selaras dengan kondisi global. Kini, publik menunggu langkah lanjutan pemerintah: Apakah akan ada penyesuaian kebijakan, atau setidaknya penjelasan yang mampu meredam keresahan yang mulai meluas.
(Am)













