Diduga Dampak Pembatasan di SPBU, Pertalite Eceran di Pontianak Dijual Hingga Rp15 Ribu per Liter!

- Penulis

Minggu, 8 Maret 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 


Pontianak – Harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite di tingkat pengecer di Kota Pontianak, Kalimantan Barat, dilaporkan melonjak hingga Rp15 ribu per liter. Kenaikan harga di tingkat pengecer ini diduga dipicu oleh semakin terbatasnya pasokan yang bisa diperoleh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Pantauan di lapangan pada Minggu (8/3/2026) menunjukkan sejumlah pengecer di beberapa titik Kota Pontianak menjual BBM jenis Pertalite dengan harga jauh di atas harga resmi yang telah ditetapkan pemerintah. Salah satu titik yang menjadi perhatian berada di kawasan Jalan Prof. Dr. M. Yamin.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang pengecer BBM bersubsidi yang enggan disebutkan namanya secara lengkap dan hanya bersedia disebut berinisial M, mengaku terpaksa menaikkan harga jual karena kesulitan memperoleh BBM dari SPBU.

Menurutnya, saat ini para pengecer tidak lagi bisa membeli BBM dalam jumlah banyak seperti sebelumnya karena adanya pembatasan pembelian di SPBU.

“Sekarang BBM jenis Pertalite susah didapat di SPBU, Bang. Kalau kita antre pun sudah tidak bisa beli banyak karena ada aturan terbaru, jadi pembelian dibatasi,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa kondisi tersebut membuat sebagian pengecer BBM eceran di Kota Pontianak memilih menghentikan aktivitas penjualan karena tidak lagi mendapatkan pasokan yang cukup untuk dijual kembali.

“Sekarang saja sudah banyak penjual Pertalite yang tidak bisa jualan lagi. Banyak yang tutup karena memang susah dapat barangnya,” tambahnya.
Karena keterbatasan pasokan tersebut, ia mengaku menjual Pertalite dengan harga Rp15 ribu per liter agar masih bisa menutup biaya operasional serta modal pembelian BBM dari SPBU.

Baca Juga:  Partai Golkar Kota Lubuk Linggau Berkontribusi dalam Pemecahan Rekor MURI Senam Sehat HUT ke-60

“Makanya kami jual Rp15 ribu per liter. Tapi kalau Abang tidak mau beli, silakan beli langsung di SPBU,” tegasnya.

Fenomena melonjaknya harga BBM bersubsidi di tingkat pengecer ini memunculkan berbagai keluhan di tengah masyarakat. Sebab, sebagian warga yang tidak sempat mengantre di SPBU atau berada jauh dari lokasi SPBU kerap bergantung pada penjualan BBM eceran.

Selain itu, kondisi tersebut juga memicu kekhawatiran terjadinya praktik distribusi BBM yang tidak merata di lapangan, terutama jika pembatasan pembelian tidak diikuti dengan pengawasan yang memadai terhadap penyaluran BBM bersubsidi.

Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah yang menjadi sasaran utama subsidi BBM berpotensi semakin terbebani karena harus membeli bahan bakar dengan harga jauh di atas harga resmi. Di sisi lain, lonjakan harga di tingkat pengecer juga dapat memicu kenaikan biaya transportasi harian serta berdampak pada meningkatnya harga barang dan jasa di tingkat masyarakat.

Situasi ini juga berpotensi menimbulkan spekulasi dan praktik penimbunan oleh pihak-pihak tertentu jika pengawasan distribusi BBM bersubsidi tidak diperketat oleh pihak terkait. Oleh karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait dapat melakukan pengawasan lebih ketat terhadap distribusi BBM bersubsidi agar tetap tepat sasaran dan tidak menimbulkan gejolak harga di tingkat masyarakat.

Sumber : warga inisial M

Red/Tim*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel globalinformasi.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

MUSPROV VII Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia KALIMANTAN BARAT 2026: MOMENTUM PENENTU—MELAHIRKAN KEPEMIMPINAN ATAU MENGUKUHKAN STAGNASI
Mabes Polri Diminta Bongkar Jaringan Rokok Helium di Kalimantan Barat!
Rokok Helium Semakin Banjir : Tim Mabes Polri Perlu Turun Tangan
Hardiknas 2026, Ketum IWO Indonesia Ajak Kolaborasi Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua
Biehoi dan Halim Hilmy dalam Sorotan Publik Terkait Isu Transparansi Dana Deposito dan Kepatuhan Pajak
Anggota Ormas HBB Dianiaya, Pelaku Tak Kunjung Ditangkap Meskipun Sudah Menjadi Tersangka, Konsistensi Polsek Medan Kota Dipertanyakan?
Jalan Menukung–Nanga Siyai Makin Hancur: Warga Geram, Janji Perbaikan Tinggal Debu
Diduga Gunakan Jalur Tak Resmi, Penyaluran BBM di APMS 67.787.01 Mentebah Tuai Sorotan!?
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 00:53 WIB

MUSPROV VII Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia KALIMANTAN BARAT 2026: MOMENTUM PENENTU—MELAHIRKAN KEPEMIMPINAN ATAU MENGUKUHKAN STAGNASI

Senin, 4 Mei 2026 - 23:08 WIB

Mabes Polri Diminta Bongkar Jaringan Rokok Helium di Kalimantan Barat!

Senin, 4 Mei 2026 - 10:06 WIB

Rokok Helium Semakin Banjir : Tim Mabes Polri Perlu Turun Tangan

Sabtu, 2 Mei 2026 - 10:15 WIB

Biehoi dan Halim Hilmy dalam Sorotan Publik Terkait Isu Transparansi Dana Deposito dan Kepatuhan Pajak

Sabtu, 2 Mei 2026 - 06:04 WIB

Anggota Ormas HBB Dianiaya, Pelaku Tak Kunjung Ditangkap Meskipun Sudah Menjadi Tersangka, Konsistensi Polsek Medan Kota Dipertanyakan?

Berita Terbaru

Uncategorized

Rokok Helium Semakin Banjir : Tim Mabes Polri Perlu Turun Tangan

Senin, 4 Mei 2026 - 10:06 WIB